Path: Top / Skripsi / Ushuluddin / 2004

Konsep Hubungan Agama dan Negara (dalam Pandangan Abdurrahman Wahid dan Franz Magnis Suseno)

Undergraduate Theses from jtptiain / 2013-05-01 13:26:18
Oleh : NN (NIM 4199064), Fak.Ushuludin IAIN Walisongo
Dibuat : 2004-02-05, dengan 6 file

Keyword : Konsep,Hubungan,Agama,Negara,Abdurrahman Wahid,Franz Magnis Suseno
Url : http://

Berdasarkan uraian bab demi bab sebelumnya dapat karya tulis ini dapat penulis simpulkan sebagai berikut : 1. Baik Gus Dur maupun Franz Magnis Suseno sependapat bahwa salah satu cara dalam upaya menjalin hubungan yang produktif antara agama dan politik adalah dengan jalan memberi peluang seluas-luasnya bagi agama untuk menjaga otonominya selaku kekuatan kritis masyarakat, kemampuan profetik agama harus dipulihkan dengan jalan memulihkan otonomi agama sebagai kekuatan pendamping bagi masyarakat dalam perjalanan sejarahnya selaku rombongan musyafir. Agama berperan sebagai hati nurani masyarakat yang bisa memberi pertimbangan moral dan etik bagi keputusan-keputusan politik yang hendak diambilnya. Dengan arah ini, negara tidak hanya berlaku sebagai penguasa yang bisa bebas memanipulasi agama demi kepentingan politiknya sendiri, dan agama hanya berfungsi selaku pemberi legitimasi dan cap pembenaran bagi negara. Aktifitas politik terutama yang dilakukan oleh penguasa, harus didasarkan kepada prinsip fundamental dalam agama, dalam Islam ada keempat prinsip fundamental dalam Islam, yaitu syura (musyawarah), al-Adl (keadilan), al-Hurriyah (kebebasan), al-Musyawa (kesetaraan derajat), maka dengan begitu dapat dikatakan, yang terpenting dalam penyelenggaraan kekuasaan negara adalah dasar etik dan moral yang digunakan, apakah sesuai dengan semangat demokrasi dan penegakan HAM atau sebaliknya. 2. Keduanya berpendapat bahwa modernisasi paling tidak merupakan usaha perubahan sosial, perubahan cara berfikir dan bersikap maupun kaitannya dengan sesuatu yang dinggap mapan. Dalam kaitan demikian agama sebagai suatu sistem yang mapan seringkali dianggap sebagai modernisasi. Nilai-nilai agama harus mampu menjadi landasan moral atau etis sekaligus motivasional dalam kehidupan sosial ekonomi dan politik. Usaha kedua tokoh dalam menempatkan Islam sebagai motivasi moral kehidupan berbangsa dan bernegara inilah yang secara optimis mempunyai prospektif ke depan yang cerah, apalagi banyaknya sarjana yang secara aktif tumbuh memperjuangkan agama fungsional termasuk moral dan pendekatan teologis demi kemajuan pembangunan Indonesia. 3. Dalam masalah agama, Gus Dur dan Franz Magnis Suseno sebenarnya mempunyai pendapat yang sama bahwa agama adalah bukan saja merupakan permasalahan hubungan manusia dengan Allah semata, tetapi hubungan manusia dengan manusia. Keduanya mengharapkan agama dapat menjadi penolong bagi kehidupan manusia yang sangat jahat ini. Cuma dalam istilah yang digunakan memang berbeda, kalau Gus Dus memakai istilah pembebasan, sedangkan Franz Magnis Suseno memakai istilah pembela, tetapi intinya adalah sama yaitu untuk kemaslahatan umat manusia dan bukan hanya untuk kemaslahatan agama agama penganut masing-masing. Masalah negara ada perbedaan pendapat antara keduanya, Gus Dur menekankan bahwa syarat negara adalah ikatan solideritas dan faham keagamaan, sedangkan Franz Magniz Suseno mengatakan bahwa negara itu hanya sebagai kesatuan politis, jadi agama itu tidak bisa terlibat dalam negara dan tidak bisa lepas dari negara dengan bukti dia menolak berdirinya negara sekularistik dan berdirinya negara agama. Kemudia hubungan agama dan negara, antara Gus Dur dan Franz Magnis Suseno terdapat kesamaan bahwa dalam sebuah negara agama berperan sebagai hati nurani masyarakat yang dapat memberikan pertimbangan bagi setiap langklah dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Keduanya juga menghendaki negara untuk tidak ikut campur dalam urusan agama, biarlah agama mengembangkan dirinya sendiri dan diberi kebebasan otonom untuk bergerak dalam melakukan kerja-kerja sosialnya

Deskripsi Alternatif :

Berdasarkan uraian bab demi bab sebelumnya dapat karya tulis ini dapat penulis simpulkan sebagai berikut : 1. Baik Gus Dur maupun Franz Magnis Suseno sependapat bahwa salah satu cara dalam upaya menjalin hubungan yang produktif antara agama dan politik adalah dengan jalan memberi peluang seluas-luasnya bagi agama untuk menjaga otonominya selaku kekuatan kritis masyarakat, kemampuan profetik agama harus dipulihkan dengan jalan memulihkan otonomi agama sebagai kekuatan pendamping bagi masyarakat dalam perjalanan sejarahnya selaku rombongan musyafir. Agama berperan sebagai hati nurani masyarakat yang bisa memberi pertimbangan moral dan etik bagi keputusan-keputusan politik yang hendak diambilnya. Dengan arah ini, negara tidak hanya berlaku sebagai penguasa yang bisa bebas memanipulasi agama demi kepentingan politiknya sendiri, dan agama hanya berfungsi selaku pemberi legitimasi dan cap pembenaran bagi negara. Aktifitas politik terutama yang dilakukan oleh penguasa, harus didasarkan kepada prinsip fundamental dalam agama, dalam Islam ada keempat prinsip fundamental dalam Islam, yaitu syura (musyawarah), al-Adl (keadilan), al-Hurriyah (kebebasan), al-Musyawa (kesetaraan derajat), maka dengan begitu dapat dikatakan, yang terpenting dalam penyelenggaraan kekuasaan negara adalah dasar etik dan moral yang digunakan, apakah sesuai dengan semangat demokrasi dan penegakan HAM atau sebaliknya. 2. Keduanya berpendapat bahwa modernisasi paling tidak merupakan usaha perubahan sosial, perubahan cara berfikir dan bersikap maupun kaitannya dengan sesuatu yang dinggap mapan. Dalam kaitan demikian agama sebagai suatu sistem yang mapan seringkali dianggap sebagai modernisasi. Nilai-nilai agama harus mampu menjadi landasan moral atau etis sekaligus motivasional dalam kehidupan sosial ekonomi dan politik. Usaha kedua tokoh dalam menempatkan Islam sebagai motivasi moral kehidupan berbangsa dan bernegara inilah yang secara optimis mempunyai prospektif ke depan yang cerah, apalagi banyaknya sarjana yang secara aktif tumbuh memperjuangkan agama fungsional termasuk moral dan pendekatan teologis demi kemajuan pembangunan Indonesia. 3. Dalam masalah agama, Gus Dur dan Franz Magnis Suseno sebenarnya mempunyai pendapat yang sama bahwa agama adalah bukan saja merupakan permasalahan hubungan manusia dengan Allah semata, tetapi hubungan manusia dengan manusia. Keduanya mengharapkan agama dapat menjadi penolong bagi kehidupan manusia yang sangat jahat ini. Cuma dalam istilah yang digunakan memang berbeda, kalau Gus Dus memakai istilah pembebasan, sedangkan Franz Magnis Suseno memakai istilah pembela, tetapi intinya adalah sama yaitu untuk kemaslahatan umat manusia dan bukan hanya untuk kemaslahatan agama agama penganut masing-masing. Masalah negara ada perbedaan pendapat antara keduanya, Gus Dur menekankan bahwa syarat negara adalah ikatan solideritas dan faham keagamaan, sedangkan Franz Magniz Suseno mengatakan bahwa negara itu hanya sebagai kesatuan politis, jadi agama itu tidak bisa terlibat dalam negara dan tidak bisa lepas dari negara dengan bukti dia menolak berdirinya negara sekularistik dan berdirinya negara agama. Kemudia hubungan agama dan negara, antara Gus Dur dan Franz Magnis Suseno terdapat kesamaan bahwa dalam sebuah negara agama berperan sebagai hati nurani masyarakat yang dapat memberikan pertimbangan bagi setiap langklah dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Keduanya juga menghendaki negara untuk tidak ikut campur dalam urusan agama, biarlah agama mengembangkan dirinya sendiri dan diberi kebebasan otonom untuk bergerak dalam melakukan kerja-kerja sosialnya

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherjtptiain
OrganisasiF
Nama KontakMiswan
AlamatJl. Prof. Dr. Hamka Km. 2 Ngaliyan
KotaSemarang
DaerahJawa Tengah
NegaraIndonesia
Telepon024 7603921
Fax024 7619100
E-mail Administratormiswant@yahoo.com
E-mail CKOar_mandka@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • , Diupload oleh :

Download...


tumblr analytics

(Sejak 21 Juni 2010)
View My Stats